KENAPA ULAMA MENOLAK HADITS SHAHIH


.

Khilafiyah Antar Umat

https://i2.wp.com/www.bugman123.com/FluidMotion/Cavity1.gif 

Menurut Syeikh Ibnu Taimiyah : mungkin saja seorang ‘ulama mempunyai hujjah tertentu untuk meninggalkan pengamalan suatu hadits yang belum kita ketahui.

Seorang ‘ulama terkadang menunjukkan hujjah-nya, terkadang tidak menampakkannya.

Kalaupun ia menampakkannya, terkadang sampai kepada kita, terkadang juga tidak.

Jika pun sampai kepada kita, terkadang kita dapat memahami hujjah sang ‘ulama, terkadang juga tidak. Baik hujjah tersebut benar, ataupun keliru.

Kita tak boleh menyimpang / menyembunyikan dari pendapat yang jelas hujjah-nya berdasarkan  hadits shahih, yang telah disepakati oleh sebagian ‘ulama, lalu beralih kepada pendapat lain yang dimiliki oleh seorang ‘ulama yang belum nampak hujjah­-nya, meskipun ia lebih ‘alim.

 

 “ Adapun para imam dan fuqaha ahli hadits, mereka mengikuti hadits shahih di mana pun berada, apabila hadits tersebut diamalkan oleh para sahabat dan generasi sesudahnya, atau diamalkan oleh sekelompok mereka.

 Adapun hadits shahih yang disepakati ditinggalkan oleh kaum salaf, maka tidak boleh diamalkan. Karena mereka tidak meninggalkan hadits tersebut, melainkan setelah mengetahui bahwa hadits tersebut memang tidak diamalkan ..SELESAI…

[ Al-Imam al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya, Bayan Fadhl ‘Ilm al-Salaf ‘ala ‘Ilm al-Khalaf – hal. 57 ]

1. / Umar bin Abdul Aziz  berkata: “ Ikutilah pendapat yang sesuai dengan pendapat orang-orang sebelum kalian, karena mereka lebih tahu dari pada kalian.”

2. / Al-Hafidz Ibn Abdil Barr yang dikutip oleh Al-Qadhi Mundzir, dalam :  Jami’ Bayan Al-Ilm juz IIhal. 171.  bahwa Ibn Abdil Barr mencela dua golongan :

  Golongan Pertama

Golongan yang tenggelam dalam Ra’yu dan berpaling dari Sunnah .

  Golongan Kedua

Golongan yang sombong yang berlagak pintar padahal bodoh ‘’  / menyampaikan Hadits, tetapi tidak mengetahui isinya .

[  Jami’ Bayan Al-Ilm juz II – hal. 171 ].

 

3. / Ibn Al-Qoyyim Al-Jawziyah  berkata dalam I’lamu Al-Muwaqqi’in juz I/hal. 44, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata : = ’’ Jika seseorang memiliki kitab karangan  yang didalamnya termuat sabda Nabi saw, perbedaan Sahabat dan Tabi’in, maka ia tidak boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar .”

4. / Imam Syafi’i rahimahullah  –  Masing-masing ibadah telah memiliki kaifiyat ( tata cara )nya tersendiri . maka sikap kita adalah mengikuti dalil, atau contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Atau istilahnya tauqifi (menunggu dalil).

 Semuanya telah diterangkan oleh syariat, yang kemudian disampaikan kepada kita oleh para ulama terdahulu , mengikuti apa yang mesti diikuti dan menolak apa yang ditolak oleh syariat, dan tidak pula menambah atau mengurangi.

Maka, ibadah mahdhah tidak boleh dimodif, baik di tambah-tambah, atau dikurangi, berdasarkan akal dan hawa nafsu manusia atau karena kepentingan kelompok.

Umat Islam telah berijma bahwa orang yang telah mengetahui sebuah Hadits dari Rasulullah saw , maka tidak boleh meninggalkannya untuk mengambil pendapat seseorang / orang lain.-

[ Imam Syafi’i Dalam kitab- RAUDATHU ATH THALIBIN ]

 

5. / Imam Sufyan ats Tsauri Rahimahullah / dikutip oleh Imam Abu Nu’aim sebagai berikut : “ Jika engkau melihat seorang melakukan perbuatan yang masih diperselisihkan, padahal engkau punya pendapat lain, maka janganlah kau mencegahnya. ” –

[ Imam Abu Nu’aim al Asbahany, Hilyatul Auliya’, 3/ 133 ]

 

6. / Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah :

“ Adapun yang terkait masalah ijtihad , tidak mungkin orang awam menceburkan diri ke dalamnya mereka tidak boleh mengingkarinya tetapi itu tugas ulama.

Kemudian , para ulama hanya boleh mengingkari dalam perkara yang disepakati para imam.

Adapun dalam perkara yang masih diperselisihkan maka tidak boleh ada pengingkaran di sana. Karena berdasarkan dua sudut pandang setiap mujtahid adalah benar.

Ini adalah sikap yang dipilih olah mayoritas para ulama peneliti ( muhaqqiq ).

Sedangkan pandangan lain mengatakan bahwa yang benar hanya satu, dan yang salah kita tidak tahu secara pasti , dan dia telah terangkat dosanya.” 

[ Syarah an Nawawi ‘ala Muslim,1/131 ]

.

7. / Imam As Suyuthi Rahimahullah berkata dalam kitab Al Asybah wa An Nazhair :

“ Tidak boleh ada pengingkaran terhadap masalah yang masih diperselisihkan.  Sesungguhnya pengingkaran hanya berlaku pada pendapat yang bertentangan dengan ijma’ ( kesepakatan ) para ulama.”

[ Imam As Suyuthi, Al Asybah wa An Nazhair,1/285 ]

 

8. / Berkata Syaikh Dr. Umar bin Abdullah Kamil : Mufti Al-Azhar.

“Telah ada perselisihan sejak lama pada masa para imam besar panutan: Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Ats Tsauri, Al Auza’i, dan lainnya.Tak satu pun mereka memaksa yang lain untuk mengubah agar mengikuti pendapatnya, atau melemparkan tuduhan/hinaan terhadap keilmuan mereka, atau terhadap agama mereka, lantaran perselisihan itu.”

[ Kitab : Adab al Hiwar wal Qawaid al Ikhtilaf, hal. 32 ]

 

9. / Beliau juga MENAMBAHKAN berkata :
“Ijtihad itu, jika dilakukan sesuai dengan dasar-dasar ijtihad dan manhaj istimbat ( konsep penarikan kesimpulan hukum ) dalam kajian ushul fiqh ( dasar-dasar fiqih ), maka wajib menghilangkan sikap pengingkaran atas hal ini. Tidak boleh seorang mujtahid mengingkari mujtahid lainnya, dan tidak boleh seorang muqallid ( pengekor-yang taqlid ) mengingkari muqallid lainnya, jika tidak demikian maka akan terjadi fitnah.”

[ Kitab : Adab al Hiwar wal Qawaid al Ikhtilaf, hal. 43. ]

.

10. / Imam Adz Dzahabi asy-Syafi’i Rahimahullah berkata :

Berkata Ibnu Al Junaid : “ Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata : “ Pengharaman nabidz ( air perasan anggur ) adalah benar, tetapi aku tidak mau mengomentarinya, dan aku tidak mengharamkannya. Segolongan orang shalih telah meminumnya dengan alasan hadits-hadits shahih, dan segolongan orang shalih lainnya mengharamkannya dengan dalil hadits-hadits yang shahih pula.”   

 

[ Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala, Juz. 11/88 ]

11. / Seseorang boleh mengikuti salah satu pendapat yang diperselisihkan ulama dan kita tidak boleh mencegahnya untuk melakukan hal itu, kecuali permasalahan yang telah disepakati ulama.

 

Al-Hadits itu menyesatkan, kecuali bagi fuqaha /ulama’  –

 

[ Imam Syufyan bin Uyainah, guru Imam As-Syafi’i ]

 

12./ Syaikh Utsaimin ( KSA ) Jika para fuqoha berbeda pendapat dalam suatu masalah sehingga sebagian mengatakan sunnah dan sebagian mengatakan bukan sunnah – maka tidak seharusnya membid’ahkan yang lain – Karena kalau kita membid’ahkan mereka dalam masalah seperti ini maka semua ulama dalam permasalahan khilafiah adalah ahlu bid’ah – Maka selama perbedaan ulama bukan dalam masalah aqidah dan tidak terlihat jelas mengada-adakan perkara baru – maka urusannya longgar ”.

 

[  Syarh al-’Aqidah al- Wasîthiyyah / Riyadl: Dar al-Tsurayya, 2003-hal 638 ]

 

14,/ Imam Malik Rahimahullah. Suatu ketika, Sultan Harun Ar-Rasyid meminta izin kepada Imam Malik untuk menggantungkan Kitab Al-Muwaththa’ di Ka’bah dan memaksa agar seluruh umat Islam mengikuti isinya. Tapi, Imam Malik menjawab: ”Jangan engkau lakukan itu, karena para shahabat Rasulullah SAW saja berselisih pendapat dalam masalah furu’( cabang ), apalagi ( kini)  mereka telah berpencar ke berbagai negeri.”  – [ Muwaththo’ ]

15./ Rasulullah SAW telah bersabda: ”Sesungguhnya Allah SWT telah membuat ketentuan-ketentuan, maka janganlah kamu melanggarnya , telah mewajibkan sejumlah kewajiban , maka janganlah kamu abaikan , telah mengharamkan banyak hal , maka janganlah kamu melanggarnya , telah mendiamkan banyak masalah sebagai rahmat bagi kamu –

bukan karena lupa –

maka janganlah kamu mencari ( kesulitan ) di dalamnya.”

[ HR Imam Daruquthni ]

 

16. / Raja’ bin Haywah , Wafat : 112 H. [ Tokoh Para Tabi’in ].

Pahitnya perbedaan pendapat di zaman yang lebih akhir – termasuk di zaman kita – adalah akibat diterlantarkannya adab / Tatakrama / Sopan Santun .

 “Ada dikatakan = betapa indahnya Islam yang dihiasi oleh iman = betapa indahnya iman yang dihiasi oleh taqwa = betapa indahnya taqwa yang dihiasi oleh ilmu = betapa indahnya ilmu yang dihiasi oleh kesantunan = dan betapa indahnya kesantunan yang dihiasi oleh kelemahlembutan.”

17. / As- Sunnah atau Hadits merupakan dasar hukum Islam yang kedua yang berfungsi sebagai penguat dan penjelas dari isi kandungan dari ayat-ayat al-Qur’an.

Adapun dasar manusia untuk melakukan belajar adalah hadits Nabi SAW. sebagai berikut:

 “ Hisyam bin Ammar telah menceritakan kepada saya, Hafsh bin Sulaiman telah menceritakan kepada saya, Katsir bin Sindhir telah menceritakan kepada saya, dari Muhammad bin Sirin dari Anas bin Malik. Dia berkata:

Rasulullah saw.bersabda:

menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungkan permata mutiara dan emas pada leher babi.”

Rasulullah mengatakan

Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.”

[ HR Ahmad ]

====================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s