“Insya Allah” & “Na’udzubillahimindzalik” = Salah Kaprah


.

https://i0.wp.com/www.bugman123.com/Math/BoysSurface1.gif

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ,

أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أللهُ   أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Sebagai seorang muslim dalam kehidupanya sehari-hari mengucapkan kata seperti “ insyaallah ”  &  “ na’udzubillahimindzalik ” itu wajar, karena kalimat tersebut merupakan kalimat yang diambil dari ayat Allah SWT.

Namun yang kita bicarakan sekarang adalah tentang penempatan pengucapan kata itu dalam kehidupan sehari-hari.

Sekarang ini banyak yang salah kaprah dengan kata tersebut dalam penempatan pengucapanya.

Untuk itu mari kita coba telaah bersama penghayatan dalam penempatan kata tersebut.

.

a.

 إن شاء الله

InsyaAllah

Secara bahasa kata itu berarti jika Tuhan menghendaki, disini makna kata tersebut adalah sebuah bentuk kepasrahan seorang hamba terhadap Tuhan.

Seperti yang kita tahu bahwa manusia hanya bisa merencanakan sesuatu dan Tuhan lah yang berkehendak atas perencaan sesuatu tersebut “” akankah terwujud ataupun tidak “”

Kata InsyaAllah mempunyai makna ketidak tahuan hamba akan waktu yang akan datang, baik itu satu detik mendatang ataupun menit, jam, hari, dan tahun, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.

Maka kita sering mengucapkan kata tersebut.

Tapi sering kali kata itu di gunakan untuk menutupi atau sebagai legalitas dari sebuah keraguan.

Ketika kita melakukan sebuah janji dengan seseorang kita sering mengucapkan kata itu.

Tapi kadang-kadang kita menggunakan kata itu hanya takut bila nanti kita tak menepati janji tersebut atau sebagai legalitas untuk meredam emosi atau kekesalan terhadap pihak yang telah kita berikan janji.

Kesalahanya adalah kita menempatkan kata itu atas dasar sungkan (tak berhasrat atau tak kita niati sepenuhnya) atas suatu yang akan kita lakukan.

Padahal kata tersebut harusnya kita dasari dengan kejujuran dan niat untuk melakukan apa yang akan kita lakukan bukanya hanya untuk menutupi keraguan kita.

Dan bila janji itu tidak terpenuhi hendaknya itu adalah atas kehendak Tuhan bukan atas kehendak kita karena pada waktu berjanji kita sudah sungkan atas hal yang kita janjikan.

b.

Na’udzubillahimindzalik

Kata yang kedua ini sering kita dengar ketika kita melihat ataupun mendengar suatu kejadian yang sangat di murkai oleh Allah SWT.

Kata di murkai oleh Allah Swt perlu ditekankan pada saat pengucapan kata ini.

Kebanyakan dari kita sering salah dalam penempatan pengucapan kata ini. Kesalahannya adalah ketika kita melihat hal-hal yang ganjil yang di sebabkan oleh kejadian dari lahiriyah”” seperti orang cacat “”

Kita sering menghujat orang cacat dengan mengucapkan “na’udzubillahimindzalik” sebagai reaksi kita dengan maksud supaya kita dan keluarga terhindar dari hal seperti yang kita lihat.

Tapi itu sebenarnya hal yang keliru.

Bukankah orang cacat itu adalah karunia Allah SWT kepada seorang hamba yang Dia anggap mampu untuk menangguh hal itu?,

bila kita menghujat orang cacat dengan pengucapan kata na’udzubillahimindzalik

bukankah sama saja dengan menghujat ciptaan-Nya?

” Astaghfirullahal’adzim “.

Bukankah dengan mengucapkan   ” Alhamdulillah “ sebagai rasa syukur atas rahmat yang telah di berikan kepada kita lebih baik dari pada menghujat cacat seseorang.

 .

والله أعلم بالصواب

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s