Shalat Fardhu di Kendaraan yang berjalan – Tidak Boleh


.

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ,

أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أللهُ   أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

 Pilihan Menjama’ Shalat atau Shalat di Kendaraan

Pak Ustadz, bukankah kita boleh melakukan shalat di kendaraan sambil duduk di kursi bis, dengan terlebih dahulu tayamum di kaca/jendela bis.

Hal ini pernah saya lakukan saat perjalanan naik bis dari Jakarta ke Pekan Baru yang menempuh jarak 2 hari 2 malam.

Apakah kita perlu menjama’ shalat setelah tiba/istirahat di kota terdekat ataukah sudah gugur kewajiban kita karena sudah melakukan shalat di bis.

Jawaban :

Ada beberapa perbedaan ulama tentang kebolehan melakukan shalat wajib di atas kendaraan.

Perbedaan itu bukan semata-mata timbul dari ijtihad para ulama, melainkan hadits-hadits yang kita terima dari Rasulullah SAW telah saling berbeda.

Maka wajar pula bila para ulama pun saling berbeda pandangan.

.

1.

Pendapat yang Tidak Menerima Shalat Wajib di Atas Kendaraan

Sebagian ulama memandang masalah shalat di atas kendaraan adalah bahwa Rasulullah SAW tidak pernah melakukannya. Kecuali hanya pada shalat sunnah saja.

Adapun ketika datang waktu shalat wajib, beliau turun dari untanya dan shalat di atas tanah dengan menghadap kiblat.

Bahwa Rasulullah SAW pernah shalat di atas punggung unta dan menghadap ke mana saja, memang benar.

Namun ketahuilah bahwa shalat itu hanyalah shalat sunnah, bukan shalat wajib. Dasarnya adalah hadits beliau SAW berikut ini:

Dari Amir bin Rabi’ah ra. berkata,

“Aku melihat Rasulullah SAW di atas kendaraannya ( shalat ) dan membungkukkan kepalanya menghadapkan ke mana saja. Namun beliau tidak melakukannya untuk shalat-shalat fardhu.”

( HR. Muttafaq ‘alaihi )

.

Hadits ini menurut An-Nawawi, Al-Iraqi, Al-Hafidz dan lainnya dikatakan sebagai sebagai dalil atas kebolehan melakukan shalat sunnah di atas kendaraan dalam perjalanan yang panjang.

Sedangkan kalau bukan dalam perjalanan panjang, telah terjadi perbedaan pendapat.

Imam Malik mengatakan bahwa bila bukan dalam perjalanan yang membolehkan qashar shalat, shalat sunnah di atas kendaraan tidak boleh dilakukan.

Imam An-Nawawi mengatakan bahwa shalat wajib itu tidak boleh lepas dari menghadap kiblat.

Sehingga bila shalat di atas kendaraan yang kemungkinan akan berbelok-belok, batallah shalat itu.

Maka beliau mengatakan bahwa para ulama berijma’ tidak boleh shalat fardhu di atas kendaraan.

Kecuali bila bisa dipastikan shalat di atas kendaraan itu tidak akan membuatnya lepas dari menghadap kiblat, juga bisa dipastikan untuk bisa berdiri, ruku’ sujud dengan benar.

Tetapi kalau tidak memungkinkan, maka shalat fardhu di atas kendaraan tidak dibenarkan.

Demikianlah yang tertulis di madzhab kami ( asy-Syafi’i ) sebagaimana perkataan An-Nawawi.

.

Sedangkan shalat di atas kapal laut, oleh mereka dikatakan bahwa para ulama telah ijma’ atas kebolehannya.

Sedangkan kalau seseorang tidak mungkin mendapatkan kendaraan memungkinkan shalat fardhu menghadap kiblat, berdiri, ruku’ dan sujud, maka dia tetap harus shalat sebisanya, namun dengan kewajiban melakukan i’aadah.

I’aadah adalah mengulangi shalat ketika kondisinya sudah normal kembali di waktu lain.

.

2.

Pandangan yang Membolehkan Shalat Fardhu di Atas Kendaraan

Mereka yang berpandangan bahwa shalat fardhu boleh dikerjakan di atas kendaraan, berangkat dari hadits lainnya dari Rasululullah SAW berikut ini:

Dari Ya’la bin Murrah bahwa Rasulullah SAW melewati sebuah celah sempit bersama dengan para shahabat dengan menunggang kendaraan.

Saat itu langit hujan dan tanah menjadi basah.

Lalu datanglah waktu shalat, beliau memerintahkan muadzdzin untuk adzan dan qamat.

Lalu Rasulullah SAW memajukan kendaraannya ke depan dan melakukan shalat dengan membungkuk, bungkuknya untuk sujud lebih rendah dari bungkuk untuk ruku’.

( HR. Ahmad, An-Nasai, Ad-Daaruquthunydan Tirmizy )

.

Oleh At-Tirmizy, hadits ini dinilai sebagai hadits gharib dan dinilai sebagai hadits dha’if oleh Al-Baihaqi.

Sedangkan yang men-shahih-kan hadits ini adalah Abdul Haq, lalu yang mengatakannya hasan adalah At-Tuzy.

Secara isi kandungan hukumnya, jelas sekali bahwa hadits ini bertentangan 180 derajat isinya dengan hadits Bukhari dan Muslim di atas, yang menyebutkan tidak ada shalat fardhu di atas kendaraan.

Hadits ini justru menyebutkan dengan tegas bahwa Rasulullah SAW dan para shahabat melakukan shalat fardhu di atas kendaraan, secara berjamaah pula. Bahkan sempat dikumandangkan adzan dan iqamah sebelumnya.

Lalu bagaimana kesimpulan hukumnya, bolehkah kita shalat fardhu di atas kendaraan?

.

Jawabnya

kembali kepada pendapat mana kita akan memilih.

Kalau kita cenderung menerima hadits yang pertama, maka kalau pun kita shalat fardhu di atas kendaraan, masih ada kewajiban untuk mengulangi shalat di rumah.

Sebab kendaraan itu tidak bisa menjamin bahwa shalat kita bisa tetap menghadap kiblat, juga tidak bisa shalat sambil berdiri tegak, ruku dan sujud secara sempurna.

Namun bila kita cenderung menerima pendapat yang kedua, tidak apa-apa juga.

Silahkan shalat di atas kendaraan tanpa menghadap kiblat, tanpa berdiri, tanpa rukuk dan sujud yang sempurna.

Toh dahulu Rasulullah SAW diriwayatkan pernah melakukannya juga, meski kalau kita bicara kekuatan haditsnya, lebih lemah dibandingkan hadits yang pertama.

.

Jalan Terbaik

Umumnya sikap yang paling baik adalah keluar dari khilaf , selagi masih memungkinkan.

Yang sama sekali sudah tidak ada khilafnya adalah shalat jama’ dan qashar.

Maka dalam perjalanan seperti yang anda sebutkan, shalat Dzuhur dan Ashar sebaiknya anda jama’ dan demikian juga dengan shalat Maghrib dan Isya’.

Yaitu saat istirahat di suatu perhentianjalan.

Bisa dikerjakan di mushalla atau di mana saja, yang penting bisa menghadap kiblat dengan benar, bisa berdiri, sujud dan ruku’dengan benar.

Semua untuk menghindari diri dari khilaf para ulama.

Kita cari amannya dan kepastian hukum yang lebih jelas.

Apalagi mengingat bahwa selama masih ada air, kita toh masih belum boleh bertayamum.

Meski pun di dalam kendaraan.

Dan sebenarnya, memang ada air di dalam kendaraan, paling tidak kita punya botol air kemasan yang bisa dibeli sepanjang perjalanan.

Sementara bertayammum dengan menggunakan debu yang menempel di jendela, juga masih menyisakan perbedaan pendapat.

Sebab sebagian ulama mengatakan bahwa hanya debu yang benar-benar terlihat nyata saja yang boleh digunakan untuk tayammum.

Sedangkan debu yang tidak terlihat mata biasa, atau debu mikroskopis, tidak bisa digunakan.

Lagi pula, debu mikroskopis itu sendiri bukan hanya ada di jendela dan dinding saja, tetapi di udara pun ada juga beterbangan.

Masak kita mau bertayammum dengan debu mikroskopis yang beterbangan di udara?

Pendeknya, apa yang disebutkan tentang tayammum dengan jendela masih menyisakan perdebatan seru, antara mereka yang membolehkan dan yang tidak membolehkan.

Karena itu, yang paling aman adalah kita turun dari kendaraan, lalu cari mushalla dan berwuhdu dengan benar, lalu shalat jama’ dan juga boleh diqashar sekalian.

Alternatif ini selagi masih mungkin dilakukan, sebaiknya dikerjakan.

Kecuali dalam kondisi tertentu di mana kita memang tidak mungkin alias mustahil berhenti dan singgah di suatu tempat.

Misalnya perjalanan dengan kereta api atau pesawat terbang.

Sedangkan dengan bus umum atau mobil pribadi, sangat dimungkinkan untuk berhenti sejenak untuk shalat, mungkin sambil istirahat atau makan.

 والله أعلم بالصواب

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 Ahmad Sarwat, Lc

5411_108151832713_6547142_n
Rumah Fiqih Indonesia

14 thoughts on “Shalat Fardhu di Kendaraan yang berjalan – Tidak Boleh

  1. This is the right webpage for everyone who really wants to understand this topic. You realize a whole lot its almost tough to argue with you (not that I really would want to…HaHa). You definitely put a new spin on a topic that has been discussed for many years. Excellent stuff, just excellent!
    ============================================

  2. What university perform you get to? Shy Lolita Lovely big Clit. Wet wet wet fucking lovely. She cums hence rich. I would love to lick it up before achieve her cum by my face and taste her cream mmmm
    ==================================================

  3. Hello! I could have sworn I’ve been to your blog before but after browsing through some of the articles I realized it’s new to me. Anyways, I’m definitely delighted I discovered it and I’ll be bookmarking it and checking back regularly!

  4. My developer is trying to convince me to move to .net from PHP. I have always disliked the idea because of the costs. But he’s tryiong none the less. I’ve been using Movable-type on several websites for about a year and am nervous about switching to another platform. I have heard excellent things about blogengine.net. Is there a way I can transfer all my wordpress posts into it? Any kind of help would be really appreciated!

  5. Very enlightening… professional epoxy floor coating is significant whenever appearingseeking to prettify the garage area. Some individuals aim to accomplish the work themselves, but we have found there are actually many prospective issues and also pitfalls which the amateurish mightcan be uninformed of. As a result we usually inform those looking for consistent and additionally top quality results to findto locate a pro contractor for installs.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s