Definisi ‘Ulama, Kyai dan Ustadz


.

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ = بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أللهُ = أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

    Definisi ‘Ulama, Kyai dan Ustadz
 .

Memang istilah-istilah itu cukup banyak, terkadang satu dengan lainnya saling bertumpang tindih.

Dan wajar bila banyak yang bingung dengan begitu banyaknya istilah itu.

Kami tidak akan memberikan definisi masing-masing istilah itu, namun hanya akan memberikan sedikit penjelasan, semoga bisa sedikit membantu.

a. Ulama

Pengertian ulama dalam istilah fiqih memang sangat spesifik, sehingga penggunaannya tidak boleh pada sembarang orang.

Semua syaratnya jelas dan spesifik serta disetujui oleh umat Islam.

Paling tidak, dia menguasai ilmu-ilmu tertentu, seperti ilmu Al-Quran, ilmu hadits, ilmu ifiqih, ushul fiqih,qawaid fiqhiyah serta menguasai dalil-dalil hukum baik dari Quran dan sunnah.

Juga mengerti masalah dalil nasikh mansukh, dalil ‘amm dan khash, dalil mujmal dan mubayyan dan lainnya.

Dan kunci dari semua itu adalah penguasaan yang cukup tentang bahasa arab dan ilmu-ilmunya.

Seperti masalah nahwu, sharf, balaghah, bayan dan lainnya.

Ditambah dengan satu lagi yaitu ilmu mantiq atau ilmu logika ilmiyah yang juga sangat penting.

Juga tidak boleh dilupakan adalah pengetahuan dan wawasan dalam masalah syariah, misalnya mengetahui fiqih-fiqih yang sudah berkembang dalam berbagai mazhab yang ada.

Semua itu merupakan syarat mutlak bagi seorang ulama, agar mampu mengistimbath hukum dari quran dan sunnah.

b. Kiyai

Lain halnya dengan sebutan kiyai, yang bukan istilah baku dari agama Islam.

Panggilan kiyai bersifat sangat lokal, mungkin hanya di pulau Jawa bahkan hanya Jawa Tengah dan Timur saja.

Di Jawa Barat orang menggunakan istilah Ajengan.

Biasanya istilah kiyai juga disematkan kepada orang yang dituakan, bukan hanya dalam masalah agama, tetapi juga dalam masalah lainnya.

Bahkan benda-benda tua peninggalan sejarah pun sering disebut dengan panggilan kiyai.

Melihat realita ini, sepertinya panggilan kiayi memang tidak selalu mencerminkan tokoh agama, apalagi ulama.

c. Ustadz

Sedangkan panggilan ustadz, biasanya disematkan kepada orang yang mengajar agama.

Artinya secara bebas adalah guru agama, pada semua levelnya.

Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa bahkan kakek dan nenek.

Namun hal itu lebih berlaku buat kita di Indonesia ini saja.

Istilah ini konon walau ada dalam bahasa Arab, namun bukan asli dari bahasa Arab.

Di negeri Arab sendiri, istilah ustadz punya kedudukan sangat tinggi.

Hanya para doktor ( S-3 ) yang sudah mencapai gelar profesor saja yang berhak diberi gelar Al-Ustadz. Kira-kira artinya memang profesor di bidang ilmu agama.

Jadi istilah ustadz ini lebih merupakan istilah yang digunakan di dunia kampus di beberapa negeri Arab, ketimbang sekedar guru agama biasa.

d. Penceramah

Adapun nama tokoh seperti yang anda sebutkan di atas, mungkin lebih tepat untuk disebut dengan profesinya, yaitu penceramah.

Karena kerjanya memang berceramah ke sana ke mari.

Sedangkan untuk disebut sebagai ulama atau ustadz, kalau kita mengacu kepada penggunaan istilah yang baku dan formal, rasanya memang kurang tepat.

Yang namanya berceramah, memang boleh siapa saja dan juga bisa bicara apa saja.

Dari masalah-masalah yang perlu sampai yang tidak perlu.

Dengan merujuk langsung kepada literatur hingga yang hanya ngelantur.

Yang penting memenuhi selera penonton.

Dan biasanya ceramah mereka selain lucu, juga komunikatif serta seringkali mengangkat masalah yang aktual.

Sehingga yang mendengarkannya betah duduk berjam-jam. Itu sisi positifnya.

Positif yang lainnya penceramah model begini adalah mampu merekrut massa yang lumayan banyak.

Mungkin karena juga dibantu dengan media.

Tetapi kekurangannya juga ada.

Misalnya,

umumnya mereka bukan orang yang lahir dan dibesarkan dengan tradisi keilmuan yang mendalam.

Juga bukan jebolan perguruan tinggi Islam dengan disiplin ilmu syariah.

Padahal point ini cukup penting, sebab yang mereka sampaikan ajaran agama Islam, tentunya mereka harus mampu merujuk langsung ke sumbernya.

Agar tidak terjadi keterpelesetan di sana sini.

Yang kedua,

kelemahan tokoh yang dibesarkan media adalah akan cepat surut sebagaimana waktu mulai terkenalnya.

Pembesaran nama tokokh lewat media itu memang demikian karakternya.

Cepat membuat orang terkenal dan cepat pula ‘melupakannya’.

Yang dimaksud dengan melupakan maksudnya adalah bahwa media bisa dengan mudah menampilkan sosok baru.

Dan sosok lama akan hilang sendirinya dari peredaran.

Kecuali hanya pada tokoh yang dikenal berkarakter kuat, sehingga tidak lekang dilewati panjangnya zaman.

Kira-kira seperti bintang film juga. Ada aktor yang sampai tiga zaman, tapi ada juga aktor yang terkenal dan meroket dengan cepat, lalu hilang dari peredaran.

Namun lepas dari keutamaan dan kelamahannya, para penceramah ini sudah punya banyak jasa buat umat Islam di negeri ini.

Banyak orang yang tadinya kurang memahami agama, kemudian menjadi lebih memahami.

Yang tadinya kurang suka dengan Islam, berubah jadi lebih suka.

Semua itu tentu saja tidak bisa kita nafikan, sekecil apa pun peran mereka.

Tentu bukan pada tempatnya bila mereka melakukan hal-hal yang kurang produktif, kita lalu mencemooh, memaki atau bahkan bertepuk tangan gembira melihat bintang mereka mulai pudar.

Kekurang-setujuan kita dengan beberapa hal yang mereka lakukan, jangan sampai membuat kita harus melupakan peran dan jasa mereka selama ini.

Bahkan belum tentu kalau kita sendiri yang berada pada posisi mereka, kita akan mampu memenuhi harapan semua orang.

Dan ke depan, tidak ada salahnya kita secara serius dan profesional menyiapkan kelahiran para ulama yang lebih matang.

Bukan sekedar yang enak diorbitkan media, tetapi mereka yang kita sekolahkan ke Timur Tengah dengan serius, hingga mendapatkan ilmu yang cukup.

Lalu ketika pulang ke negeri ini, mereka bekerja dengan baik menyampaikan ilmunya kepada kita semua.

Mungkin tidak ada salah tiap masjid di negeri ini berinvestasi untuk melahirkan satu ulama.

Misalnya,

dengan memilih lulusan pesantren yang punya nilai tinggi, untuk dibiayai kuliah S-1 dan S-2 ke Mesir, Saudi, Kuwait, Pakistan, Jordan, Suriah atau pusat-pusat ilmu lainnya.

Dengan asumsi, 4 tahun lagi mereka akan segera lulus S-1.

Itu saja sebenarnya sudah jauh lumayan dari pada sekedar penceramah.

Apalagi kalau bisa sampai S-2 atau bahkan S-3, tentu akan lebih baik lagi.

Nantinya diharapkan tiap masjid dipimpin oleh lulusan-lulusan yang berkualitas seperti mereka.

Mereka yang jadi imam, mereka yang juga mengajarkan ilmu-ilmu di masjid, dan mereka juga yang dijadikan rujukan dalam masalah agama.

Orang-orang cukup datang ke masjid utuk berkonsultasi masalah syariah.

Dan itu bisa dilakukan tiap hari dalam tiap waktu shalat.

Sebab mereka memang dipekerjakan dan digaji oleh masjid, tentunya dengan standar yang baik.

Sehingga para imam masjid ini tidak perlu nyambi jadi tukang ojek, atau jadi karyawan di pabrik dan perusahaan tertentu.

Waktunya bisa dimanfaatkan 24 jam untuk umat dan beliau stand-by di masjid.

       .

 والله أعلم بالصواب

 وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 .

Ahmad Sarwat, Lc.

saya

Rumah Fiqih Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s