SHALAT JUM’AT – BAB 20 – Syi ah / Sunni


Madzhab 4

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ – بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أللهُ – أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

BAB 20

SHALAT JUM’AT

 Kewajiban Shalat Jum’at.

Menurut ijma’ kaum Muslimin , shalat Jum’at hukumnya wajib berdasarkan Firman Allah di dalam surat Al-Jumu’ah ayat 9 :

Hai orang-orang yang beriman , apabila kamu diseru untuk shalat ( mendengar adzan ) pada hari Jum’at , maka hendaklah kamu segera mengingat Allah ( shalat Jum’at ) dan tinggalkanlah jual-beli  

Juga berdasarkan pada hadits-hadits mutawatir , baik dari kalangan Sunnah maupun Syi’ah.

Perbedaan pendapat mereka adalah dalam hal :  Apakah syarat kewajiban shalat Jum’at itu berkaitan dengan adanya Sultan , atau wakilnya , atau ia wajib dalam segala keadaan…?…

 Hanafi dan Imamiyah mengatakan:

Disyaratkan adanya Sul­tan atau walinya , dan menjadi gugur dengan ketiadaan salah seorang dari mereka . Selain dari itu , Imamiyah menambahkan syarat lainnya , yaitu keadilan Sultan , kalau tidak adil maka keberadaannya itu sama dengan ketiadaannya .

Sedangkan Hanafi hanya mensyaratkan keberadaaan Sultan sekalipun tidak adil .

Madzhab , Syafi’I , Maliki dan Hambali :

Tidak menganggap perlu adanya Sultan .

Dan

kebanyakan ulama Imamiyah menyatakan :

jika Sultan atau wakilnya tidak ada , tetapi ada faqih ( ahli fiqh ) yang adil ( adil diini menurut pandangan kelompoknya ), maka boleh dipilih antara mengerjakan shalat Dzuhur dan shalat Jum’at , walaupun lebih dianjurkan mengerjakan sha­lat Juma’at.

Syarat-Syarat Shalat Jum’at.

Seluruh ulama sepakat bahwa syarat-syarat shalat Jum’at itu sama dengan syarat-syarat shalat lainnya , seperti bersuci , menutup aurat , menghadap Kiblat .

Dan waktunya dari mulai tergelincirnya matahari sampai bayangan segala sesuatu sama panjangnya .

Dan ia boleh didirikan di dalam masjid atau di tempat lainnya , kecuali :

Madzhab Maliki

mereka menyatakan bahwa shalat Jum’at itu tidak sah kecuali bila dikerjakan di dalam masjid.

Dan seluruh ulama telah sepakat bahwa shalat Jum’at itu diwajibkan atas laki-laki saja , sedang wanita tidak .

Dan bahwa orang yang sudah mengerjakan shalat Jum’at , maka menjadi gugurlah kewajiban shalat Dzuhur daripada .

Dan bahwa shalat Jum’at itu tidak diwajibkan atas orang buta , dan tidak sah kecu­ali dengan berjama’ah .

Dalam hal jumlah jama’ah shalat Jum’at ini terdapat perselisihan pendapat.

  Maliki : Sekurang-kurangnya 12 orang selain Imam .

Imamiyah : Sekurang-kurangnya 4 orang selain Imam.

Syafi’i dan Hambali : Sekuang-kurangnya 40 orang selain Imam.

Hanafi : 5 orang , dan sebagian ulama mereka yang lain mengatakan 7 orang.

Mereka sepakat tidak boleh bepergian pada hari Jumat bagi orang yang wajib mengerjakan shalat Jum’at dan telah cukup syarat-syaratnya , sesudah tergelincirnya matahari , sebelum ia selesai mengerjakan shalat Jum’at tersebut .

kecuali madzhab Hanafi , mereka menyatakan boleh.

 Dua Khutbah.

Seluruh ulama sepakat bahwa dua khutbah itu termasuk syarat sahnya shalat Jum’at .

Pelaksanaannya adalah sebelum shalat , sudah masuk waktunya bukan sebelumnya .

Tetapi mereka berselisih pendapat dalam hal kewajiban berdiri ketika melakukan dua khutbah itu.

 Imamiyah, Syafi’i dan Maliki mengatakan :

Wa­jib berdiri ketika hutbah

Sedang

Hanafi dan Hambali : Tidak wajib berdiri ketika hutbah

Adapun tata caranya adalah sebagai berikut :

 Hanafi : Khutbah itu terwujud dengan Sekurang-kurangnya dzikir yang memungkinkan , sehingga kalau dikatakan “ Alhamdulillah ” atau “ Astaghfirullah ”, maka sudah mencukupi . Akan tetapi yang demikian itu hukumnya makruh .

 Syafi’I : Kedua khutbah itu harus berisikan pujian kepada Allah ( hamdalah ) , shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam , wasiat takwa dan pem-bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an sekurang-kurangnya pada salah satu dari kedua khutbah itu , namun lebih utama pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu pada khutbah yang pertama ,

serta doa untuk kaum Mukminin dalam khutbah kedua .

 Maliki : Semua yang dinamakan khutbah dalam urusan adat istiadat mencukupi untuk hal ini , asal mengandung peringatan kepada ketakwaan .

 Hambali : Harus ada hamdalah , shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam , pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan wasiat kepada ketakwaan .

Imamiyah : Wajib ada di dalam kedua khutbah itu ucapan pujian dan sanjungan kepada Allah Ta’ala , shalawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Alihi wa Sallam dan keluarganya , nasehat agama , pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an , dan pada khutbah kedua ditambah dengan istighfar dan doa un­tuk kaum Mukminin dan Mukminat .

Khatib

Madzhab Syafi’i dan Imamiyah menyatakan : Khatib wajib memisahkan antara kedua khutbah itu dengan duduk sejenak .

Madzhab Maliki dan Hanafi mengatakan : bahwa hal itu tidak wajib , tetapi mustahab .  Madzhab Hanafi mensyaratkan : Khutbah itu harus dikemukakan dengan bahasa Arab kalau mampu .

Syafi’i mengatakan : Disyaratkan dengan bahasa Arab kalau pendengaran adalah orang-orang yang berbahasa Arab , tetapi kalau para pendengarnya itu orang-orang ajam , maka khatib harus menyampaikan khutbahnya dengan bahasa yang dimengerti mereka , walaupun ia dapat berbahasa Arab dengan baik.

Maliki mengatakan : Khatib wajib menyampaikan khutbah dengan bahasa Arab , sekalipun jama’ahnya orang-orang ajam yang tidak mengerti bahasa Arab .

Jika di antara kaum itu tidak ada yang mampu berbahasa Arab dengan baik , maka gugurlah kewajiban shalat jum’at dari mereka .

Madzhab Hanafi serta Imamiyah mengemukakan :

bahwa bahasa Arab tidak disyaratkan dalam penyampaian khutbah Jum’at.

 Tatacara Shalat Jum’at.

Shalat Jum’at itu dua rakaat seperti shalat shubuh .

Madzhab Imamiyah dan Syafi’I : Disunnahkan membaca surat Al-Jumu’ah pada rakaat pertama , dan surat Al-Munafiqun pada rakaat kedua , masing-masing sesudah membaca Al-Fatihah .

Madzhab Maliki : Sunnah membaca Surat Al-jumu’ah pada rakaat pertama , dan Surat Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua .

Madzhab Hanafi : Makruh hukumnya menentukankan pembacaan surat secara khusus.

والله أعلم بالصواب

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

.

8 thoughts on “SHALAT JUM’AT – BAB 20 – Syi ah / Sunni

  1. I’m curious to find out what blog system you have been working with? I’m experiencing some minor security issues with my latest website and I would like to find something more secure. Do you have any suggestions?
    ===========================

  2. Aw, this was a really nice post. Spending some time and actual effort to generate a top notch article… but what can I say… I hesitate a whole lot and don’t manage to get nearly anything done.

  3. Your style is really unique in comparison to other folks I’ve read stuff from. I appreciate you for posting when you have the opportunity, Guess I’ll just bookmark this blog.

  4. An intriguing discussion is worth comment. I do think that you need to write more on this subject, it may not be a taboo subject but typically people do not speak about such topics. To the next! Best wishes!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s