Fatwa tentang Anjing. Debby Nasution


https://i2.wp.com/i1112.photobucket.com/albums/k497/animalsbeingdicks/animalsbeingdicks/abd-55.gif

Si Raman Roh Ani

dari

USTADZ

DEBBY NASUTION

.

Boleh berebut makanan dari mulut anjing atau berebutan makanan dari mulut babi = tidak nazis … brooo

.

Memang masih banyak orang yang beranggapan anjing itu binatang najis sehingga menimbulkan perasaan jijik di dalam diri mereka terhadap anjing begitu-pula halnya dengan Babi

Bahkan ada yang sampai merasa benci terhadap binatang yang tidak berdosa ini.

Al-Imâm Al-Bukhârî telah membahas masalah anjing dengan sangat jelas sekali di dalam kitab “ Shahîhnya ” yang terkenal;

beliau membawakan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar :

Adalah anjing-anjing kencing, datang dan pergi dalam masjid di zaman Rasûlullâh saw. tetapi para shahabat — Beliau — tidak menyiram sedikit pun dari yang demikian itu ”.

( H.R. Al-Bukhârî. Lihat Fathul-Bârî juz I hal. 278 )

.

Riwayat ini menunjukkan bahwa anjing itu tidak najis, karena kalau najis, sudah tentu masjid yang dimasukinya itu harus dicuci dan dibersihkan dari bekas-bekasnya.

Apalagi peristiwa itu terjadi di masjid yang termasuk paling mulia di dunia, yaitu Masjid Nabawi ( Masjidnya Nabi saw.) yang terletak di Madînah Al-Munawwarah.

Dalam sebuah hadits yang lain dari Abû Hurairah;

dari Nabi saw.

( Beliau bersabda ) :

Sesungguhnya ada seorang pria yang melihat seekor anjing yang memakan debu karena merasa haus.

Maka pria itu pun melepas sepatunya lalu digunakannya untuk mengambil air, dan kemudian ia memberi minum anjing itu sehingga anjing itu pun segar (pulih) kembali.

Maka Allâh berterima-kasih kepada pria itu serta memasukkannya ke dalam Surga ”.

( H.R. Al-Bukhârî. Lihat Fathul-Bârî juz I hal. 278 )

.

Hadits ini menunjukkan betapa menaruh rasa kasihan terhadap seekor anjing yang kehausan serta menolongnya dengan memberinya minum merupakan perbuatan yang terpuji dalam Islâm dan mendapatkan ganjaran yang besar.

Begitu-pula disebutkan dalam sebuah hadits yang lain, juga dari Abû Hurairah; Nabi saw. bersabda :

Sesungguhnya seorang wanita durhaka ( pelacur ) melihat seekor anjing di hari yang sangat panas sedang berkeliling di sekitar sumur.

Anjing itu menjulurkan lidahnya karena merasa sangat haus. Maka wanita itu pun melepas sepatunya dan memberi minum pada anjing itu — dengan sepatunya –, maka diampunilah dia sebab — perbuatannya — terhadap anjing itu ”.

( H.R. Al-Bukhârî dan Muslim. Lihat Ushûlul-Îmân oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhâb hal. 10-11 )

.

Hadits ini malah menyebutkan seorang pelacur mendapat ampunan dari Allâh SWT. hanya karena ia memberi minum seekor anjing yang kehausan di tengah hari yang sangat panas dengan menggunakan sepatunya.

Dengan kata-lain, kedua hadits di atas tidak membenarkan siapa-pun menaruh rasa benci terhadap anjing tanpa alasan yang benar, apalagi sampai menganiaya atau menyiksanya. Prof. Dr. Buya Hamka ( alm.) telah memberikan komentar yang tajam dalam masalah ini, beliau berkata :

Anjing-anjing itu diburu-buru, dikejar, dilempari dengan penuh benci, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Islâm yang awam, bukanlah hal yang sesuai dengan Roh Syari’at Islâm ”.

( Lihat Tafsîr Al-Azhar juz VI hal. 162 )

.

.

Al-Imâm Ibnu Hajar (rahimahullâh) memberikan komentar sehubungan dengan dua hadits ini, beliau berkata :

Al-Mushannif atau penulis  (  yaitu: Al-Bukhârî ) telah berdalil dengan hadits ini terhadap sucinya bekas-bekas anjing, karena — hadits ini — secara nyata menyebutkan bahwa pria ( dan juga pelacur  ) itu memberi minum seekor anjing dengan bagian dalam sepatunya ”.

( Lihat Fathul-Bârî juz I hal. 278 )

.

Dengan-kata lain, Al-Imâm Al-Bukhârî berpendapat atau berpendirian bahwa anjing itu tidak najis.

Untuk lebih memperkuat pendapatnya beliau menyebutkan sebuah hadits lagi, dari ‘Adî bin Hâtim yang bertanya kepada Nabi saw. tentang hukum berburu dengan menggunakan anjing, maka Nabi saw.

pun bersabda :

Ketika engkau melepas anjing-mu yang telah dilatih, maka makanlah apa yang dibunuhnya………”.

Al-Imâm Ibnu Hajar pun kembali memberikan komentarnya :

Sesungguhnya tujuan Al-Mushannif atau penulis ( yaitu Al-Bukhârî) membawakan hadits ini di sini, adalah untuk memberikan dalil (bukti ) bagi madzhabnya (pendiriannya ) bahwa bekas-bekas anjing itu suci ( tidak najis ) ”.

Dan Al-Imâm Ibnu Hajar juga menjelaskan, bahwa yang dimaksud dalil atau bukti — sucinya bekas gigitan anjing oleh Al-Bukhârî — dalam hadits ini ialah :

Bahwasanya Nabi saw. membolehkan pada ‘Adî bin Hâtim untuk memakan apa saja yang diburu oleh anjing berburu, dan Beliau ( Nabi ) tidak mengharuskan untuk mencuci bekas tempat gigitan mulutnya ”.

Sehubungan dengan hadits ini Al-Imâm Mâlik berkata :

Bagaimana hasil buruan anjing itu boleh dimakan — tanpa dicuci lebih dulu — kalau jilatannya dianggap najis ”.

. ( Lihat Fathul-Bârî juz I hal. 279 )

.

Maksudnya : Kalau jilatan anjing itu najis, sudah tentu binatang hasil buruannya harus dicuci lebih dulu sebelum dikonsumsi.

Akan tetapi Nabi saw. tidak memerintahkan kita untuk mencucinya, maka itu menunjukkan bahwa bekas gigitan atau jilatan anjing tidak najis.

.

https://i1.wp.com/www.gifs.net/Animation11/Animals/Dogs/bad_dog.gif

Perlu diketahui bahwa Ustadz kita ini belajar dari Kitab Suci AlManar

Fatwa berikutnya

 ==========================================

Dha’if artinya “ lemah ”, lawan kata dari “ qawiy ” yang berarti kuat.

Hadits dha’if adalah hadits yang tidak memenuhi kriteria “shahih” atau “hasan”.

Hadits dha’if disebut juga hadits mardud (ditolak).

Mengamalkan hadits dha’if yang berkaitan dengan Fadha-ilul-’Amal atau targhib wat-tarhib, sebagian ‘ulama membolehkannya dengan syarat2,

sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar:

1.- Kualitas kedha’ifannya tidak terlalu, dengan kata-lain tidak boleh mengamalkan hadits dha’if yang diriwayatkan oleh orang2
pendusta atau yang dituduh berbuat dusta, atau yang fatal (sangat buruk) kesalahannya.

2.- Hadits dha’if tersebut harus bersumber pada dalil yang bisa diamalkan.

3.- Pada waktu mengamalkan hadits dha’if tersebut, tidak boleh mempercayai kepastian hadits itu, melainkan dengan sikap “ ikhtiath ” ( hati2 dalam agama ).

Demikian syarat2 yang diajukan oleh Imam Ibnu Hajar.

Namun, menurut hemat kami,

sebaiknya hadits2 dha’if itu ditinggalkan saja,

jangan digunakan baik sebagai landasan menetapkan suatu hukum maupun sebagai landasan suatu ‘aqidah, sebagaimana ditegaskan oleh para ‘ulama.

Demikian juga yang berkaitan dengan Fadha-ilul-’Amal atau targhib wat-tarhib.

Ini adalah sikap hati2 dalam beramal,

dan seperti ini juga sikap sebagian ‘ulama dari kalangan ahli hadits seperti Syaikh Al-Albani ( rahimahullah )

dan

juga ‘ulama dari kalangan ahli fiqih seperti

Dr. Yusuf Al-Qardhawi.

.

https://i0.wp.com/www.asiisc.net/wp-content/uploads/2009/05/debby-nasution2.jpg

4 thoughts on “Fatwa tentang Anjing. Debby Nasution

  1. Aslmwlkm,….perasaan saya yg ditulis diatas semua dalil,..bukan fatwa si ustadz. Kedua kalau memang tdk berkenan, bantahannya mana ya mas? Judul artikelnya terlalu tendensius tuh, bisa masuk ke ranah hukum loh, sesama muslim harusnya berargumen dg dalil, bukan diatas kebencian dan ketidaksenangan. Salam.
    ——————————————-
    Beliau Ustadz Debby Nasution adalah Ulama Besar dari LDII , keilmuan dan wawasannya berada diatas Syaikh Nahiruddin AlBani , saya sebagai awam tidak punya kepantasan untuk mencelanya.

    Saya tidak mempermasalahkan darimana beliau ngambil dalil – tapi ketika berfatwa jangan menggunting kertas dalam lipatan , alias yang mengharamkan dan menajiskannya dia tutupi / tidak ditampilkan , sementara yang dia sukai difatwakan seolah menjadi satu pembenaran.Ini juga merupakan ketidakadilan .
    Blog ini bukan untuk kebencian tapi Blog Cinta.,تريماكاسيه كونجونغانيه
    ===============================================

  2. apanya yang sesat pak ?
    setelah saya baca artikelnya
    ustadz debby hanya menuliskan hadits2 SHAHIH dan pendapat para ulama salaf yang mashyhur di kalangan ilmuan muslim.. jadi apanya yang sesat pak ?
    keterangan tentang hadits dhaif itu benar …tapi..
    apahubungannya dengan artikel istadz debby nasution di atas pak ?
    karna saya baca beliau hanya menunjukkan dengan hadits2 yang shahih saja
    jadi.. yang mana yang sesat pak ?

    Jingga Wulan delika saja yang masih muda bisa berkomentar bahwa
    “perasaan saya yg ditulis diatas semua dalil,..bukan fatwa si ustadz. Kedua kalau memang tdk berkenan, bantahannya mana ya mas? Judul artikelnya terlalu tendensius tuh, bisa masuk ke ranah hukum loh, sesama muslim harusnya berargumen dg dalil, bukan diatas kebencian dan ketidaksenangan”

    Tapi ralat saya untuk jingga wulan adalah ustadz debby nasution sudah lama keluar dari LDII dan berbalik memerangi kesesatan pemikiran LDII

    Setau saya beliau sekarang berusaha murni berpegangan pada nash shahih dan penafsiran ulama2 salaf (bukan salafi).
    =========================
    Tidak ada yang salah dalam pemikiran , siapapun orangnya – yang salah adalah ketika dia berfatwa kemudian dijadikan pembenaran sefihak dan mengecam fihak lain , rasanya hal itu kurang baik.
    Disiplin ilmu yang dikuasai Ustadz Debby jauh diatas Syeikh Albani ,,,,,,,,,,,,, tanks untuk kunjungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s