Benarkah Pemeluk Madzhab Syafi’i Ahli Bid’ah


.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

أَعُوْذُ بِاللِه مِنَ الشََّيْطَانِ الرَّجِيْمِ = بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أللهُ = أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ


Ustadz yang dirahmati Allah, Ustadz, saya ingin bertanya, mengapa di kalangan madzhab Syafi’i dikatakan oleh penganut madzhab lain (dengan tega) sebagai bid’ah? Seperti qunut shubuh, dzikir berjama’ah dan yang lainnya.

Apakah Imam Syafi’i telah salah dalam mengambil Ijtihad? Atau penganut beliau lah yang telah menyimpangkannya? Bahkan oleh beberapa orang, penganut Madzhab Syafi’i dianggap sebelah mata, dianggap tidak tahu ilmu?

Memang di beberapa daerah penganut madzhab As-Syafi’i biasanya hanya dari kalangan orang-orang menengah ke bawah, tidak seperti penganut madzhab lain yang biasanya terdiri dari kaum terpelajar, cendekiawan, karyawan dan sebagainya dan dianggap ahli bid’ah dan sebagainya.

Mengapa demikian Ustadz? Terima kasih sebelumnya.

 =

Jawaban :

.

Memang ada beberapa kerancuan masalah dalam hal ini. Sehingga perlu dijelaskan duduk perkaranya. Agar kita bisa memilah dan memandang dengan pandangan yang objektif dan tepat.

Pertama:

Tradisionalis dan Modernis

Kami lebih cenderung memandang bahwa peta demografi umat Islam yang anda sebutkan itu sebagai dua kutub. Tetapi bukan kutub kelompok Syafi’i dan non syafi’i. Tetapi kami cenderung menyebutnya dengan kutub tradisonalis dan modernis.

Kutub pertama diwakili oleh kalangan muslim tradisionalis.

Mereka umumnya tinggal di pedesaan dengan status sosial menengah ke bawah.

Banyak melakukan ritual keagamaan dan atributnya.

Kutub kedua adalah -sebut saja- muslim modernis. Umumnya tinggal di perkotaan dengan status sosial menengah ke atas.

Walau pun demikian, pembagian ini sebenarnya tidak terlalu kaku, karena muslim modern perkotaan pun tidak selalu orang kaya, sebagaimana muslim tradisionalis tidak selalu orang miskin.

Bahwa ada sedikit jarak antara muslim tradisioalis dengan modern, memang sedikit banyak bisa diterima.

Namun yang jelas, keduanya tidak dibedakan berdasarkan faktor mazhab fiqih.

Muslim tradisionalis belum tentu orang yang paham dan mengerti masalah mazhab Syafi’i, demikian juga muslim modernis belum tentu merupakan pemeluk mazhab selain mazhab Asy-Syafi’i.

Bahwa muslim tradisionalis banyak melakukanritual keagamaan dan berbagai syiar Islam, memang diakui.

Tetapi tidak ada kaitannya dengan fiqih syafi’i.

Bahwa muslim modernis itu tidak melakukan banyak ritual keagamaan, juga tidak ada kaitannya dengan mazhab fiqihnya.

Bahkan mereka pun sama sekali bukan pengikut mazhab Hambali, Hanafi atau Maliki.

Lagi pula, di masa sekarang ini muncul fenomena yang semakin aneh.

Begitu banyak muslim perkotaan yang konon disebut modernis, justru asyik mengadakan ritual khas muslim tradisionalis.

Seperti melakukan istighotsah, menghadiri majelis zikir, mengadakan tahlilan, bicara masalah tasawuf dan seterusnya.

Sebaliknya, muslim tradisionalis yang dahulu cenderung diwaklili oleh warga pedesaan, kini anak-anak mereka mulai sekolah di kota dan memenuhi IAIN dan sejenisnya, berkenalan dengan pemikiran luar ( baca: sekuler ) anti Islam.

Islam Liberal adalah salah satu contoh sederhana yang bisa dijadikan contoh.

Dimotori oleh anak-anak kalangan muslim tradisionalis namun mengembangkan paham yang sangat jauh berbeda dengan apa yang dijalani oleh orang tua mereka.

Kedua:

Zikir Berjamaah Bukan Mazhab Asy-Syafi’i

Angapan bahwa praktek dzikir berjamaah dan hal-hal sejenisnya berasal dari ajaran Imam Asy-Syafi’i tidak tepat.

Sebab beliau adalah peletak dasar ilmu ushul fiqih dan tokoh pendiri mazhab fiqih.

Status beliau adalah mujtahid mutlak yang punya kapasitas untuk membangun ijtihad dari hulu hingga hilir.

Para mujtahid besar dunia banyak yang berguru dan mendasarkan ijtihadnya di atas apa yang telah ditetapkan oleh beliau.

Khusus masalah bacaan Al-quran dan pengiriman pahalanya kepada orang yang sudah meninggal, beberapa riwayat menyebutkan bahwa justru beliau tidak mendukungnya.

Sebaliknya,

Imam Ibnu Taimiyah malah membenarkannya.

Termasuk ritual maulid nabi, isra’ mikraj, nuzulul quran, nisfu sya’ban, dan sejenisnya, bukanlah ritual ibadah yang dikedepankan oleh beliau dan mazhabnya.

Mazhab Asy-Syafi’i malah tidak ada kaitannya dengan semua itu.

 

والله أعلم بالصواب

 وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 .

Ahmad Sarwat, Lc

index

?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s