Istilah-istilah dalam jarhu wa ta’dil


Istilah-istilah dalam jarhu wa ta’dil


Al jarhu wa ta’dil :

Pernyataan adanya cela dan cacat, dan per-nyataan adanya “al-Adalah” dan “hafalan yang bagus” pada seorang rawi hadits.

At Ta’dil :

Pernyataan adanya “al-Adalah” pada diri se-orang rawi hadits.

Al Jarhu :

Celaan yang dialamatkan pada rawi hadits yang dapat mengganggu (atau bahkan meng-hilangkan) bobot predikat “al-Adalah” dan “hafalan yang bagus”, dari dirinya.

Tsiqah :

Kredibel, di mana pada diri seorang rawi ter-kumpul sifat al-Adalah dan adh-Dhabt (hafalan yang bagus).

Rawi La Ba`sa Bihi :

Rawi yang masuk dalam kategori tsiqah.

Jayyid :

Baik

Layyin :

Lemah.

Majhul :

Rawi yang tidak diriwayatkan darinya kecua-li oleh seorang saja.

Mubham :

Rawi yang tidak diketahui nama (identitas)nya.

Mudallis :

Rawi yangi melakukan tadlis.

Rawi Mastur :

Sama dengan Majhul al-Hal (Rawi yang tidak diketahui jati dirinya).

Perawi Matruk :

Perawi yang dituduh berdusta, atau perawi yang banyak melakukan kekeliruan, sehingga periwayatanya bertentangan dengan periwayatan perawi yang tsiqah. Atau perawi yang sering meriwayatkan hadits-hadits yang tidak dikenal (gharib) dari perawi yang terkenal tsiqah.

Rawi Mudhtharib :

Rawi yang menyampaikan riwayat secara tidak akurat, di mana riwayat yang disam-paikannya kepada rawi-rawi di bawahnya berbeda antara yang satu dengan lainnya, yang menyebabkan tidak dapat ditarjih; riwayat siapa yang mahfuzh (terjaga).

Rawi Mukhtalith :

Rawi yang akalnya terganggu, yang menyebabkan hafalannya menjadi campur aduk dan ucapannya menjadi tidak teratur.

Rawi yang tidak dijadikan sebagai hujjah :

Rawi yang haditsnya diriwayatkan dan ditulis tapi haditsnya tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dalil dan hujjah.

Saqith :

Tidak berharga karena terlalu lemah (parahnya illat yang ada di dalamnya).
Tadh’if :

Pernyataan bahwa hadits atau rawi bersang-kutan dha’if (lemah).
Tahqiq :

Penelitian ilmiah secara seksama tentang suatu hadits, sehingga mencapai kebenaran yang paling tepat.
Tahsin :

Pernyataan bahwa hadits bersangkutan ada-lah hasan.
Ta’liq :

Komentar, atau penjelasan terhadap suatu potongan kalimat, atau derajat hadits dan sebagai-nya yang biasanya berbentuk cacatan kaki.
Takhrij :

Mengeluarkan suatu hadits dari sumber-sumbernya, berikut memberikan hukum atasnya; shahih atau dhaif.
Syahid :

Hadits yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari sahabat yang berbeda.
Syawahid :

Hadits-hadits pendukung, jamak dari kata syahid.

Haditsnya layak dalam kapasitas syawahid, artinya, dapat diterima apabila ada hadits lain yang memperkuatnya, atau sebagai yang menguatkan hadits lain yang sederajat dengannya.
Mutaba’ah : Hadits yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits gharib, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari seorang sahabat yang sama.

Referensi Daftar Istilah:
1. Taisir Mushthalah al-Hadits, Dr. Mahmud ath-Thahhan.
2. Manhaj an-Naqd Fi Ulum al-Hadits, Dr. Nuruddin Ithir.

 Lidwa.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s